Minggu, 08 November 2009

Musibah yang kita alami(Buletin Rohis Dzulqhaidah)

Subhanallah,belakangan ini telah banyak bencana terjadi di negeri tercinta kita ini,dan entah mengapa semua terjadi dalam waktu yang tidak jauh berbeda.

 
 

Dan seakan-akan bencana yang terjadi ini tak inngin berhenti dari bumi pertiwi,yang terakhir Sumatra Barat telah diguncang oleh gempa berkekuatan 7,6 SR yang berhasil meluluhlantahkan beberapa daerah di sekitar pusat gempa terutama kota Padang.

 
 

Ada apa dengan bencana dan negeri kita??

 
 

Bencana seperti gempa yang belakangan ini sering terjadi mungkin sebuah peringatan atau bahkan sebuah hukuman bagi kita .

 
 

Peringatan yang boleh jadi kita sebagai negeri mayoritas beragama islam ini memiliki tingkat ketaqwaaan yang tinggi hingga Allah ingin menguji kita dalam sebuah bencana yang besar agar kita semakin bertambah tingkat ketaqwaannya.

 
 

Atau bahkan yang sangat ditakutkan bahwa ini semua terjadi adalah berupa sebuah hukuman yang boleh jadi akibat dari segala perbuatan maksiat dan hina kita yang telah kita perbuat selama ini.Na`udzubillah

 
 

Ini Salah Kita??What??

 
 

Mengapa dikatakan seperti itu??secara sadar dan tidak sadar kita telah merusak lingkungan di sekitar kita seperti:membuang sampah sembarangan yang sering dilakukan oleh pelajar seperti kita ini hingga pembuangan limbah-limbah pabrik ke laut lepas dan penebangan pohon di hutan-hutan hingga tanah menjadi gundul yang mengakibatkan erosi.

 
 

Seperti yang tercantum di dalam Al-Qur`an Surat Ar-Rum ayat 41:"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"

 
 

Nah hubungannya sama kita sebagai PELAJAR??


 

Temen-temen kita secara ga sadar sering membuang sampah sembarangan padahal di jalan-jalan bahkan di sekolah kita tercinta ini pun ada banyak tempat sampah.

 
 

Nah temen-temen,as u know(cieeelah so inggris),sampah yang kita buang yang kebanyakan adalah sampah aqua gelas,aqua botol,bungkus permen sampe yang mahalan botol pulpy orange yang notabene sampah plastik non organik itu ga bisa terurai oleh tanah yang mengakibatkan ekosistem di dalam tanah ga berjalan semestinya,karena cacing yang seharusnya menguraikan zat hara yang ada di dalam tanah untuk proses kesuburan tanaman dan pohon-pohon terhambat oleh sampah plastik yang sering kita buang sembarangan.

 
 

Dan akibat dari tidak dapat terurainya zat hara tersebut tanaman dan pohon-pohon tidak dapat tumbuh dengan subur yang jika tanaman dan pohon-pohon tersebut tidak mampu tumbuh dengan subur maka tanah akan mudah erosi alias longsor.

 
 

Nah itu kalo kita dari sekarang masih sering membuang sampah ga pada tempatnya hampir pasti kita akan melanjutkan 'perjuangan' pendahulu kita dalam merusak negeri kita tercinta yang telah dikaruniakan dengan segala kebaikan ini.

 
 

Ya walau hanya contoh kecil yang memang tidak begitu berhubungan dengan gempa yang terjadi tapi dari hal sederhana inilah bencana gempa terjadi dan berakibat parah akibat tanah yang mudah longsor akibat sampah-sampah yang kita buang tidak terurai dengan baik dan benar.

 
 

Akankah kita melanjutkan??mungkin kalau kita masih sering membuang sampah sembarangan en nambahin bencana lagi di bumi pertiwi ini,semoga kita bisa ngerubah kebiasaan buruk itu...ok friend..hhe ^-^

 
 

Yang Harus kita lakuin(Action)

1.Memahami bahwa dunia ini adalah karunia yang sangat besar yang telah diberikan Allah Swt.

 
 

2.Menyadari bahwa apa yang kita perbuat pada alam ini akan memiliki akibat yang sama atas apa yang telah kita perbuat.

 
 

3Selalu menjaga lingkungan di sekitar kita dari segala kerusakan yang mampu merusaknya.

 
 

4.Saling mengingatkan agar bersikap ramah terhadap lingkungan di mana kita berada.

 
 

5.Bersyukurlah selalu karena kita kita masih diberi hidup untuk belajar dan menjadi lebih baik dari pendahulu kita.

 
 

6.Waspada terhadap bencana dan wujudkan solidaritas bila terjadi bencana.

 
 

Minggu, 01 November 2009

Air Tawar Segar di Kedalaman Samudera

Oleh: Ir. H. Bambang Pranggono, MBA.  

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara televisi `Discovery' pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli kelautan (oceanografer) dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi "Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan..."
artinya "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus." Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju minhuma lu'lu`u wal marjaan"
artinya "Keluar dari keduanya mutiara dan marjan." Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur'an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur'an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur'an memang sungguh-sungguh kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika ia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar...! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air." Bila seorang bertanya, "Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?" Rasulullah s.a.w. bersabda, "Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran."


Sumber: Majalah Percikan Iman, Edisi 4 Tahun II

  

 
Islam Ornamental Art